Tikus-tikus Rumahan

Tikus-tikus Rumahan

Saya suka dengan kontrakan sekarang. Walaupun lebih kecil dibandingkan kontrakan sebelumnya, kontrakan sekarang lebih nyaman, aman, dan tertutup rapat. Lebih penting lagi, waktu pindah dua tahun lalu, kontrakan ini baru selesai bangun. Jadi saya termasuk penghuni yang merasakan pertama kali ngontrak di kontrakan baru ini.

Salah satu hal yang saya senangi selain dari apa yang saya sebutkan diatas adalah kontrakan ini bebas tikus. Hama pengerat yang pasti ada di kontrakan lama, karena belakangnya kebon kosong.

Hanya saja, belakangan ini, hama pengerat ini mulai berdatangan. Satu per satu muncul melalui lubang-lubang yang tidak pernah saya sadari. Tidak hanya satu. Kuduga ada dua atau lebih. Bergidik saya membayangkannya.

Saya bertanya-tanya, dari mana makhluk mencicit itu masuk? Pasalnya, seperti saya sebutkan diatas, rumah kontrakan ini tertutup rapi. Jangankan tikus, lalat pun tak masuk. Namun, setelah ditelusuri ternyata saya menemukan fakta kalau ada lubang yang bisa menjadi jalan masuk tikus ke dalam rumah.

Saya menganalisa kalau tikus-tikus itu muncul dari bawah rongga pintu depan yang memang lebih terbuka lebar. Saya menutupnya dengan kain tiap malam, sehingga tikus tak lagi bisa masuk. Namun itu tak membuat tikus berhenti mencari jalan masuk.

Ada satu lagi lubang yang bisa dimasukinya. Lubang itu adalah lubang AC.

Dari mana saya tahu?

Dua tukang pemasang AC kan dulu meletakkan kabel, pipa penghubung outdoor-indoor, dan selang air buangan AC di kamar mandi. Dari atas plafon kabel dan pipa masuk terus tembus ke tembok. Lalu dari tembok dikeluarkan selang air buangan AC yang mengarah ke bawah.

Tikus-tikus rumah dengan gigi-giginya yang luar biasa tajam memperbesar lubang plafon itu. Itu mereka lakukan selama berhari-hari. Saya berpikir mereka gigih juga ya, dan itu dilakukan ketika tidak ada orang dirumah. Meski tahu itu, saya cuek bebek.

Ketika lubang sudah besar, mulailah tikus-tikus ekspansi ke dalam rumah. Sialan! Maki saya dalam hati. Saya sempat ingin membeli lem tikus supaya tidak membunuh mereka didalam rumah. Jijik saya jika harus membuang bangke tikus.

Eh belum sempat terbeli, rumah sudah dipenuhi aroma bangke. Oh damn! Tikus-tikus itu mati. Saya sempat membiarkannya. Tapi aroma bangke makin menguar di udara dalam rumah.

Mau tak mau saya pun membongkarnya, daripada belatung bangke merangkak kemana-mana? Sialnya, saya tidak menemukan bangke itu. Waktu akhirnya menyerah, saya malah menemukan satu bangke tikus teronggok di belakang pintu kamar mandi. Hiyyy... Saya memberanikan diri membuangnya.

Namun, aroma bangke belum hilang. Saya curiga ada satu tikus lagi yang mati. Tapi dimana? Saya tidak menemukannya.

Dua hari kemudian, saya baru menemukannya. Si tikus teronggok di bawah mesin cuci. Hiiiaksss!!! Mana bangke itu menggeliat-geliat. Bukan, bukan karena bangke itu hidup. Bangke itu terlihat menggeliat, karena ada belatung hidup didalamnya. Oh nooo! Buru-buru dah saya sapu dan buang.

Fiuh, akhirnya rumah kembali steril dari tikus.

Sayang itu hanya sebentar saja. Beberapa hari kemudian ada tikus lagi didalam rumah dan masuk melalui lubang yang sama. Dan lagi-lagi juga tikus itu mati meninggalkan aroma busuk yang menyengat.

Saya dan istri bertanya-tanya apa yang membuat tikus itu mati? Kami ingat kalau sebelumnya sempat menaburkan racun tikus berbentuk kue.

Sebal juga rumah dimasuki tikus terus menerus. Saya pun mengambil langkan taktis dengan mengubah tatatan rumah. Semua yang berserak dirapikan, yang tidak terpakai buang langsung. Intinya meringkas.

Sudah beberapa hari ini tikus-tikus rumahan belum muncul. Mudah-mudahan sih tak muncul-muncul lagi.
Load disqus comments

0 komentar