Cerita Lucu tentang Siapa Orang Paling Bodoh?

Postingan kali ini merupakan hasil nyulik dari postingan saya di blogdetik 9:17. Sebetulnya lupa punya blog ini. Begitu mengetikkan nama Lilih Prilian Blog, malah muncul blog 9:17. Saya baca-bacai beberapa postingan didalamnya.
 
Saya menemukan postingan menarik di blog 9:17. Di blog tersebut saya juduli: “Orang Paling Bodoh Sedunia!”, tapi di blog ini, saya ganti judulnya: “Cerita Lucu tentang Siapa Orang Paling Bodoh”. Saya benar-benar lupa apakah postingan itu cerita asli atau cerita karangan? Soalnya sudah empat tahun.

Saya edit di beberapa bagian, tapi tidak menghilangkan makna isi (halah).

Cerita Lucu tentang Siapa Orang Paling Bodoh?

Belakangan waktu lalu, saya sempat potong rambut di tukang rambut yang bukan langganan saya. Maklum saja tukang cukur langganan saya masih ada di kampung. Belum balik. Yah, sebagai orang yang sudah gede (baca: cukup umur), ketika ditanya sama si tukang cukur rambut mau gaya apa, saya bilang mau gaya biasa aja. “Pendek! Style jabrik dikit boleh deh,” begitu pinta saya.

Si tukang cukur, yang setelah bincang-bincang saya ketahui namanya Rojan itu, mengajak saya ngobrol terus. Rasa kantuk saya pun sirna. Sampai akhirnya ada seorang bocah laki-laki lewat di depan kios potong rambut. Rojan bertanya pada saya dengan suara pelan. “Bapak tahu nggak, orang paling bodoh sedunia?” tanyanya.

“Nggak.” saya menggeleng.

“Itu.” sambil menunjuk itu bocah laki-laki yang lewat itu.

“Siapa?”

“Itu, anak itu. Si Rustam…”

Saya baru ngeh dengan anak yang ditunjuk bang Rojan. “Ah, masak sih?”

“Iya. Saya buktikan kebodohannya ya.” Bang Rojan pun memanggil Rustam dan memintanya memilih  uang: 50 ribu atau 10 ribu. Sambil cengar-cengir, Rustam memilih uang 10.000 dan langsung ngeloyor pergi.

Bang Rojan berbalik ke arah, dan berkata, “Tuh kan, bodoh kan dia?”

Saya bersungut-sungut. Diam saja.

Setelah saya selesai dan pulang, di tengah jalan saya bertemu dengan Rustam. Saya berhenti dan menyapanya, lalu menanyakan tentang pilihan Rustam di tempat tukang cukur.

“Hai,” sapa saya. Rustam cengar-cengir melihat saya. Memang dari wajahnya dia memang sedikit “lugu” (untuk tidak mengatakan bodoh). “Kamu lagi apa?” tanya saya memulai percakapan.

“Lagi jadi pak ogah om.” (Pak ogah adalah orang yang “membantu” mobil/motor menyeberang)

“Oh. Eh iya, tadi di tempat tukang cukur. Kenapa kamu, milih duit 10.000, bukannya duit 50.000?”
“Hehehe… sengaja saya om. Abis kalau saya ambil yang 50 ribunya, besok-besoknya dia nggak  bakal kayak begitu lagi.”

“Kok bisa?”

“Abang tukang cukur itu memang tiap hari menyuruh saya memilih duit dengan nominal itu. Pikiran saya, kalau ngambil yang 50 ribu, mungkin dia nggak akan ngasih pilihan itu lagi. Karena saya dianggapnya pintar. Permainan selesai sampai disitu!”Aku manggut-manggut. Tapi, kemudian tercetus pertanyaan di dalam kepala. Jadi, siapa yang bodoh dan siapa yang pintar sih sebenarnya? Ah, BODOK AMAT!
Load disqus comments

0 komentar