Cerpen The Devil Inside Me

Posting Komentar
cerpen-the-devil-inside-me-tengkorak.jpg
Ilustrasi cerpen dok. pribadi.

Bima mondar-mandir di kamar sempitnya yang pengap. Duduk sebentar, berdiri lagi. Tangannya meraih rokok, menyalakan, lalu mengisapnya dalam-dalam. Asap mengepul tebal, tetapi rasa jenuh di dadanya tak kunjung terangkat. Ada ruang kosong yang mendadak menganga dalam hidupnya. Bukan karena patah hati, bukan pula karena dompet tipis—melainkan lenyapnya koneksi internet.

Sejak semalam jaringan mati total. Kabarnya, server pusat provider habis dibakar massa penyusup saat demo besar-besaran. Hasilnya? Sinyal melayang entah ke mana. Biasanya di jam-jam seperti ini, jemarinya sibuk menari di atas layar HP, push rank sampai subuh atau scrolling media sosial tanpa tujuan hingga matanya pedas. Hari ini, ia dipaksa bertatap muka dengan sepi.

“Sialan!” rutuknya pelan, mematikan puntung rokok di asbak.

Saat matanya menatap langit-langit kamar yang kusam, sebuah memori lama yang berdebu mendadak mencuat di kepalanya. Kenapa nggak nulis aja?

Sudah berapa tahun ia meninggalkan kebiasaan itu? Sejak kecanduan guliran layar sentuh, jemarinya tak lagi lincah merangkai kata. Ia tahu jemarinya pasti sudah kaku. Seperti engsel pintu tua yang tak pernah diberi minyak, memaksanya bergerak hanya akan menghasilkan derit yang menyakitkan. Namun, kebosanan pagi ini jauh lebih menyiksa.

Ia melangkah ke sudut kamar, menarik laptop tuanya keluar dari dasar lemari. Benda hitam keluaran 2014 itu penuh debu. Saat tombol daya ditekan, deru kipasnya terdengar menderu berat seperti napas orang tua yang kelelahan. Bima membawa laptop itu duduk di dekat jendela, membiarkan tumpahan cahaya matahari pagi dan embusan angin dingin masuk menyapa kulitnya.

Dokumen baru aplikasiMicrosoft Word dibuka. Layar putih bersih membentang. Kursor hitam kecil berkedip-kedip ritmis.

Satu menit. Tiga menit. Lima menit. Tak ada satu huruf pun yang keluar dari jarinya. Otaknya membeku.

Bima mengernyit, memijat pelipisnya. “Lho, kenapa nge-blank ya?”

Tepat saat kata itu terucap, sensasi dingin yang aneh merembes keluar dari telinga kirinya. Kepulan asap putih tipis berhembus, berkumpul di udara, lalu menggeliat membentuk sosok legam berwujud menyeramkan dengan mata menyala. Bima terlonjak hingga kursi kayu yang didudukinya berderit nyaring.

“Siapa lo?!” serunya dengan suara bergetar.

Makhluk itu menyeringai, menampilkan deretan gigi tajam. “Masa lupa? Aku iblis yang selama ini nyaman tidur di dalam kepalamu.”

“Iblis?” Bima melongo, merapatkan tubuhnya ke sandaran kursi.

“Ya. Dan sekarang aku mau tanya: mau sok-sokan ngapain kamu buka laptop purba itu, hah?”

“Aku… cuma mau nulis.”

“Hahaha!” Iblis itu tertawa terbahak-bahak, suaranya seperti gesekan amplas di kayu kering. “Nulis? Sejak kapan kamu punya nyali? Coba ingat-ingat, berapa ratus draft tulisan yang cuma berhenti di bab satu? Kamu itu cuma tukang wacana. Pembual. Penakut!”

Kata-kata itu menghantam dada Bima. Sakit, karena ia tahu makhluk itu tidak sedang berbohong. Bertahun-tahun ia memelihara impian menjadi penulis, tetapi selalu menyerah di tengah jalan saat godaan rasa malas dan keraguan datang menyergap.

“Tapi… gue cuma mau coba lagi,” gumam Bima pelan, menunduk.

Iblis itu mendesis, membusungkan dadanya hingga bayang-bayang hitamnya menutupi sebagian cahaya matahari dari jendela. “Coba lagi untuk gagal lagi? Akui saja! Kamu nggak punya bakat. Hidupmu cuma berisi penyesalan dan ide-ide mentah yang membusuk di folder komputer. Buka HP-mu saja, meski nggak ada sinyal, setidaknya kamu nggak perlu merasa tidak berguna seperti ini!”

Iblis itu makin mendekat, hawa dinginnya menusuk tulang. Memori-memori kegagalan Bima bermunculan kembali—folder berisi draft bertajuk Unfinished, cerita pendek yang usang tanpa akhir, dan janji-janji pada diri sendiri yang selalu dilanggar.

Bima menggertakkan gigi. Rasa hangat mendadak membakar dadanya. Ia mengepalkan tangan di atas meja.

“Nggak!” bentak Bima sambil menatap lurus ke mata merah iblis itu. “Memang banyak yang menggantung! Tapi gue pernah nyelesaiin beberapa hal kecil dalam hidup gue. Dan alasan tulisan-tulisan itu terbengkalai… adalah karena gue selalu dengerin suara bising dari lo!”

Mata iblis itu menyipit. “Kamu tidak akan pernah bisa menyelesaikan apa pun, Bima. Kamu lemah.”

“Mungkin dulu!” Bima menarik napas panjang, meresapi udara pagi yang mengisi paru-parunya. Katarsis itu terasa nyata. Ia meluruskan punggungnya, menatap kursor berkedip di layar yang masih kosong, lalu menempatkan sepuluh jarinya di atas keyboard.

“Gue nggak peduli kalau tulisan ini jelek. Gue nggak peduli kalau nggak ada yang baca. Yang penting, tulisan ini bakal selesai. Dan titik terakhirnya akan gue ketik sekarang.”

Iblis itu mengerang pendek. Wajah seramnya tampak terkejut, sebelum akhirnya menyeritkan senyum tipis—seolah mengakui kekalahannya. Perlahan, wujud hitam pengap itu terurai menjadi asap tipis, lalu menguap sepenuhnya disapu angin pagi yang berembus lewat jendela.

Kamar kembali hening. Hanya ada Bima dan layar laptopnya.

Tanpa ragu lagi, jemari Bima mulai menekan tombol-tombol keyboard. Bunyi klak-klik berirama memenuhi ruangan. Kata demi kata mengalir deras seperti bendungan yang jebol, merangkai cerita tentang seorang lelaki, kamar pengap, internet yang mati, dan seekor iblis yang muncul dari dalam telinganya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bima mengetikkan kalimat terakhir, menambahkan tanda titik, lalu memberikan judul di bagian atas dokumennya: "The Devil Inside Me".

Related Posts

Posting Komentar