Kakak Kelas Pendiam dan Adik Kelas Cerewet - Bab 2

Posting Komentar

Bab 2: Pagi yang Meleset dan Pengakuan Tak Terduga

Kantuk berat masih menggantung di kelopak mataku. Secangkir kopi hitam pekat yang kuseduh terburu-buru di dapur rumah tadi sama sekali gagal mengusir kabut di kepala.

Penyebabnya cuma satu: aku sengaja memasang alarm sepuluh menit lebih awal dari biasanya.

Bagi seorang penikmat rutinitas seperti aku, memotong waktu tidur sepuluh menit adalah sebuah pengorbanan besar. Tapi demi menghindari bencana berwujud adik kelas cerewet bernama Yoneyama Maharu, keputusan ini harus diambil.

Kemarin, setelah "perjanjian paksa" bertaut kelingking yang konyol di dekat vending machine stasiun itu, aku menghabiskan separuh malam untuk memikirkan strategi pertahanan. Pilihan paling aman adalah kabur lebih awal. Kalau aku naik kereta jadwal pertama di jam 06.10, si adik kelas itu pasti masih nyaman bergulung di dalam selimutnya.

Membayangkan wajah bingungnya saat berdiri di peron nanti tanpa menemukan keberadaanku—sementara aku sudah duduk tenang di gerbong kereta yang sepi—rasanya seperti baru saja memenangkan pertempuran penting.

Langkah kakiku terasa ringan saat menuruni tangga peron Stasiun Hamakyu. Udara pagi masih terasa menggigit kulit. Di bawah remang lampu peron, beberapa pekerja kantoran bertukar hembusan napas beruap sambil memandangi layar ponsel masing-masing. Suasana yang sunyi, damai, dan sempurna.

Aku merogoh tas, mengeluarkan novel fisik berukuran saku favoritku. Hari ini, 30 menit perjalanan menuju sekolah akan kembali menjadi milikku sepenuhnya.

Namun, baru saja jemariku hendak membuka halaman pertama...

Hooft.

Sebuah tiupan angin dingin terasa tepat di ceruk telinga kananku, menyebarkan rasa geli yang membuat tengkukku meremang seketika.

"Selamat pagi, Kakak Keita~♪"

Aku meloncat kaget, berputar 180 derajat dengan mata membelalak sampai kacamataku nyaris melorot ke ujung hidung.

Di sana, berdiri tegak dengan senyum manis tanpa dosa, adalah sosok yang paling ingin kuhindari pagi ini. Yoneyama Maharu. Ia melambaikan tangan kecilnya, mengenakan tas sekolah yang dicangklong santai di bahu kirinya.

"K-kok... kenapa kamu bisa ada di sini!?" suaraku sumbang, pecah di tengah kesunyian peron.

"Lho, bukannya itu pertanyaanku?" Maharu memiringkan kepalanya, terkekeh geli melihat reaksiku. "Kakak sendiri kenapa berangkat pagi sekali? Padahal aku sudah bela-belain bangun subuh dan lari-lari kecil ke stasiun supaya bisa mencegatmu di jadwal yang lebih awal."

Gadis ini... dia memprediksi kalau aku bakal kabur!?

Dada ini rasanya remuk seketika. Seluruh simulasi taktik yang kususun semalaman runtuh tanpa sisa. Skor sementara: aku kalah telak dari seorang adik kelas.

Diiing-dooong...

Pengumuman dari pengeras suara stasiun bergema, menyelimuti peron dengan deru suara mesin kereta api yang perlahan memasuki jalur tiga. Angin kencang bertiup melintas, mengibarkan ujung rok Maharu dan helai rambut hitamnya.

"Nah, keretanya sudah datang. Ayo naik, Kak," ajaknya santai sambil melangkah lebih dulu ke bibir pintu gerbong.

***

Suara derit roda besi yang beradu dengan rel mengiringi perjalanan kami. Gerbong kereta pagi ini masih agak senggang. Lampu neon di langit-langit memantulkan bayangan kami berdua di kaca jendela yang agak berembun.

Aku bersandar pada tiang besi di dekat pintu, menggenggam erat novelku yang kini menganggur, sementara Maharu berdiri tepat di hadapanku dengan posisi siap menyerang.

"Kamu ini sebenarnya penguntit, ya?" celetukku jujur, tak tahan lagi menahan prasangka.

Maharu cemberut, menepuk pelan bahuku dengan ujung jarinya. "Jahat sekali! Aku ini adik kelas yang ramah dan berniat baik, tahu! Lagipula, ini pertama kalinya aku seniat ini mengejar seorang laki-laki. Harusnya Kakak Keita merasa terhormat dan bertanggung jawab!"

"Bertanggung jawab untuk apa, coba?" protesku sambil membuang muka, tak mau menatap matanya yang jahat namun jernih itu.

"Sudah, tak perlu dramatis," potong Maharu cepat, membetulkan letak tali tasnya. "Ingat kan aturan perjanjian kita kemarin? Satu hari, satu pertanyaan yang wajib dijawab jujur!"

Aku menghela napas berat, meratapi nasib. "Harus banget dijawab sekarang?"

"Tentu saja! Pertanyaan pertamaku untuk hari ini..." Maharu memajukan tubuhnya setengah langkah, menatapku tajam. "...Kak Keita ikut klub apa di sekolah?"

Refleks, otakku harus memutar otak. Pertanyaan berbahaya. Kalau aku memberitahunya jadwal kegiatanku, gadis ini bisa-bisa mencegatku bukan hanya saat berangkat, tapi juga saat jam pulang sekolah!

"Aku memilih bungkam," jawabku mantap, mencoba memasang wajah datar ala tembok beton.

Namun, Maharu bukannya menyerah, ia justru tersenyum kian lebar. Senyuman manis yang justru terasa sangat mengancam.

"Oho~ Jadi Kakak mau melanggar janji kelingking, nih? Katanya kalau melanggar janji, harus bersedia menelan seribu jarum beracun, lho."

"Mana ada aturan seperti itu!"

"Ada! Aturan khusus buatan Yoneyama Maharu," sahutnya polos tanpa beban. "Ayo, jawab. Atau Kakak mau aku ikuti terus dari koridor kelas sampai ke ruang guru setiap bel istirahat?"

Anak ini benar-benar iblis. Bayangan diikuti olehnya di depan seluruh penghuni sekolah membuat bulu kudukku berdiri. Mau tak mau, benteng pertahananku roboh juga.

"Aku... tidak ikut klub olahraga atau seni mana pun," gumamku pelan, menundukkan kepala. "Aku cuma anggota Komite Perpustakaan. Sama... Ketua OSIS."

Seketika itu juga, suasana di sekitar kami mendadak hening.

Aku menoleh ragu dan menemukan Maharu terpaku di tempatnya. Matanya berkedip berulang kali, mulutnya sedikit menganga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, aku melihat gadis cerewet ini benar-benar kehilangan kata-kata.

"Ehh...?" Maharu menggosok telinganya, seolah baru saja salah mendengar. "Komite Perpustakaan sih masih masuk akal... Tapi... Kakak ini Ketua OSIS!?"

"Kenapa? Ada yang salah?"

"Ya salah bangetlah!" seru Maharu, mengabaikan beberapa penumpang di sekitar kami yang mulai melirik. "Orang yang kerjanya cuma menyendiri di pojokan kereta, tidak pernah menyapa adik kelasnya, dan punya aura suram begini... adalah Ketua OSIS di sekolah kita!? Sekolah kita ini sebenarnya baik-baik saja tidak, sih?"

"Heii! Komentar macam apa itu!?" protesku emosi. "Kira-kira sedikit kalau bicara!"

"Tapi serius, Kak... Bukankah Ketua OSIS itu harusnya tipe murid berkarisma, populer, dan suka berpidato di depan ribuan orang?"

Aku mendengus pelan, menatap keluar jendela yang menampilkan pemandangan permukiman warga yang melintas cepat. "Itu cuma ada di komik atau anime. Di sekolah kita, jabatan Ketua OSIS itu murni tugas administratif. Kebanyakan cuma urusan tanda tangan berkas, menyusun laporan kegiatan, dan jadi maskot formal saat upacara."

"Singkatnya... Kakak cuma pajangan?"

"Ucapanmu menyebalkan sekali, ya," balasku datar. Tapi dalam hati, aku harus menganiaya diri sendiri karena ucapan itu ada benarnya.

Aku memang memilih menjadi Ketua OSIS dan Komite Perpustakaan bukan karena haus jabatan, melainkan karena dua tempat itu adalah "zona aman" yang tidak menuntut interaksi fisik yang melelahkan seperti klub olahraga. Aku hanya seorang penonton yang mengamati riuhnya masa muda murid lain dari balik kacamata ini.

Melihatku mendadak diam melamun menatap jendela, nada suara Maharu perlahan melunak.

"Kak?" memanggilku pelan, tanpa nada ejekan yang biasanya. "Kenapa melamun?"

"Ah... tidak. Cuma memikirkan betapa tidak gunanya penjelasanku barusan," balasku cepat sambil berdehem, mencoba menguasai keadaan kembali. "Nah, sekarang giliranku yang bertanya. Itu sesuai aturan, kan?"

Maharu mengedipkan matanya, lalu tersenyum tipis. "Boleh. Mau tanya apa?"

"Kau sendiri ikut klub apa? Kenapa jam segini sudah berkeliaran di stasiun?"

Gadis itu menyandarkan punggungnya ke pintu gerbong, memainkan ujung dasi marunnya. "Aku anggota Klub Seni. Tapi... cuma anggota hantu, sih."

"Anggota hantu?"

"Iya. Aku cuma datang kalau lagi ingin melukis saja. Kebanyakan waktunya ya cuma menumpang nama," katanya mengaku dengan santai. "Aku kurang suka terikat pada kelompok yang mewajibkan kumpul setiap hari. Melelahkan."

Aku menatapnya agak terkejut. Di balik sifatnya yang super cerewet, ekstrovert, dan terkesan meledak-ledak ini, ternyata ia punya sisi pemalas yang mirip denganku.

"Berarti kamu tidak bisa menggambar?" godaku tipis.

"Bisa, kok! Jangan remehkan ya," sungutnya sambil memanyunkan bibir. "Lain kali bakal kutunjukkan gambarku. Biar Kak Keita kagum!"

"Boleh. Gambarkan ikan buntal beracun yang kamu sebut-sebut tadi," balasku terkekeh pelan.

Suara rem kereta yang berdecit nyaring menandakan gerbong mulai melambat. Kami sudah hampir sampai di stasiun tujuan. Papan penunjuk di atas pintu mulai menyala, memperlihatkan nama stasiun dekat sekolah kami.

Perjalanan 30 menit yang biasanya terasa sangat lama dan membosankan, entah bagaimana pagi ini berlalu begitu cepat tanpa sempat kubuka satu halaman pun dari buku di tanganku.

Saat pintu gerbong terbuka dan arus penumpang mulai berdesakan keluar, Maharu melangkah mendahuluiku. Namun di ambang pintu, ia berbalik sejenak dan menatapku dengan binar mata yang hangat.

"Terima kasih atas jawabannya hari ini, Kak Keita," bisiknya pelan di tengah keriuhan orang-orang. "Sampai ketemu besok pagi!"

Aku hanya mampu mengangguk pasrah sambil memperhatikan sosoknya yang mulai melebur di tengah kerumunan murid berseragam sama.

Aku meraba saku celanaku, menghela napas panjang, lalu melangkah keluar gerbong. Sepertinya, hari-hari sekolahku yang damai dan tenang sudah resmi berakhir sejak kehadiran gadis itu.

Related Posts

Posting Komentar