Kakak Kelas Pendiam dan Adik Kelas Cerewet - Bab 1

Posting Komentar

Bab 1: Penyergap di Gerbang Tiket

Aroma khas stasiun kereta di pagi hari—perpaduan antara samar bau oli mesin, pendingin udara, dan sisa embun pagi—selalu menjadi penanda dimulainya rutinitas yang membosankan.

Di tengah hiruk-pikuk arus penumpang yang tergesa-gesa mengejar jam kerja, aku melangkah santai menuju gerbang tiket otomatis. Tanganku sudah masuk ke saku celana, bersiap menarik kartu transportasi. Di telingaku, musik akustik pelan masih mengalun, meredam bisingnya pengumuman speaker stasiun yang menggema di langit-langit concourse.

Namun, tepat saat langkahku tinggal dua jengkal dari sensor gerbang, sebuah ketukan pelan hinggap di bahu kananku.

"Permisi... Mas Kacamata? Ada yang jatuh, nih."

Suara itu bening, sedikit nyaring di tengah riuhnya suasana stasiun. Aku menghentikan langkah, mengernyit. Mas Kacamata?

Aku meraba saku celana dan merapikan tali tas di bahu. Buku saku aman, dompet ada, ponsel juga tidak bergeser. Tidak merasa ada barang yang tercecer, aku pun memutar badan.

Seorang gadis berseragam SMA berdiri tepat di hadapanku. Ia mengulurkan telapak tangannya yang mungil. Di atas kulit tangannya yang bersih, tergeletak sebuah benda karet silikon hitam berukuran sangat kecil.

Itu earpiece dari earphone nirkabel favoritku. Benda itu pasti terlepas dan terpelanting saat aku mencabut earphone secara asal beberapa menit lalu.

Aku menunduk menatap benda kecil itu sejenak, lalu mendongakkan kepala menatap wajahnya. "Ah... iya, itu punya saya. Terima kasih banyak, ya, Kak."

Gadis itu terkekeh pelan sambil menyerahkan karet silikon tersebut. "Aduh, santai saja kali, Kak. Tapi dari warna dasi kita yang sama-sama merah marun begini, haruskah aku dipanggil 'Kak' juga? Padahal aku kan adik kelasmu."

Mataku refleks melirik ke arah kerah seragamnya. Blazer biru tua yang rapi, rok lipat abu-abu, dan dasi marun yang melingkar di lehernya. Seragam yang persis sama dengan yang kukenakan.

"Ah... maaf. Terima kasih, ya, Dik," ulangku, kini membetulkan posisi karet earphone ke dalam saku dengan lebih hati-hati.

Jujur saja, menemukan karet earpiece sekecil itu di lantai stasiun yang dipadati ratusan orang adalah hal yang hampir mustahil. Jika benda itu hilang, kenyamanan mendengarkan musik di kereta bakal rusak total.

"Sama-sama, Kak!" sahutnya tangkas, memberi penekanan pada kata "kakak".

Stasiun jalur Hamakyu ini punya dua akses keluar. Pintu depan yang lebar dan landai menjadi rute favorit mayoritas murid sekolah kami. Sementara rute belakang—yang melewati lorong sempit berlantai semen kasar ini—sangat tidak populer karena jalurnya lebih memutar.

Sejak bulan April lalu, aku selalu mengira dialah satu-satunya murid di sekolah yang bernasib sama denganku: terpaksa menggunakan jalur belakang yang sepi ini. Kami tak pernah sekelas, tak pernah bertegur sapa, dan hanya saling pandang dari kejauhan di dalam gerbong kereta. Bagi diriku yang menghargai ketenangan, dia hanyalah 'elemen latar belakang' dalam perjalanan berangkat sekolah.

Sampai pagi ini.

Sebagai bentuk rasa terima kasih karena telah menyelamatkan kenyamanan telingaku, aku mengajaknya bergeser beberapa meter ke area vending machine di sudut lorong. Aku menekan tombol jus kotak rasa apel, lalu menyerahkannya padanya.

"Ini. Anggap saja tanda terima kasih."

"Wah, asyik! Makasih, Kak!" Muka gadis itu langsung cerah. Tanpa ragu, ia menusukkan sedotan plastik ke kemasan kotak itu dan langsung menyedotnya hingga berbunyi srooot.

"Memangnya kamu yakin aku ini kakak kelasmu?" tanyaku sambil bersandar pada dinding dingin di samping mesin minuman.

"Yakinlah! Dasi marun kita ini kan penanda tingkat dua dan tingkat tiga. Berhubung wajahmu kelihatan lebih tua dan pasrah menjalani hidup, kamu pasti kakak kelas tingkat tiga!" jawabnya tanpa dosa.

Aku hampir saja tersedak liur sendiri. Kelihatan lebih tua dan pasrah menjalani hidup? Anak ini bicaranya asal menjeplak saja.

"Sudahlah. Karena urusan earphone dan jus ini sudah selesai, aku jalan duluan." Aku menegakkan badan, hendak melangkah menuju tangga peron.

"Eh! Nanti dulu, Dong! Jangan main kabur begitu saja!" Gadis itu langsung bergeser cepat, mendadak memotong jalur jalanku seperti polisi tidur.

"Ada apa lagi?"

"Kakak, sadar tidak? Di stasiun sepi ini, tiap pagi yang naik kereta ke arah sekolah cuma ada kita berdua!"

"Lalu?"

"Lalu? Ya mubazir banget, dong! Kita sama-sama naik kereta yang sama selama 30 menit tiap hari, tapi malah saling diam seperti patung semen. Ayo kita ngobrol!"

Aku memandanginya dengan tatapan tak percaya. "Alasan macam apa itu? Aku bahkan tidak kenal siapa kamu."

Detik itu juga, kedua matanya berbinar tajam. Senyum lebar terpatri di wajahnya, seolah-olah kalimat pasrahku barusan adalah umpan yang memang sudah ia tunggu-tunggu untuk disambar.

"Nah! Justru karena belum kenal, makanya kita harus kenalan dan ngobrol!" serunya bersemangat, mengacungkan jari telunjuknya ke udara. "Kakak kan tiap hari kubaca buku fisik terus di kereta. Katanya orang yang suka baca buku itu punya rasa ingin tahu yang tinggi pada hal-hal baru. Masa sama adik kelas sendiri tidak penasaran?"

Sialan. Logikaku malah dibalikkan oleh anak ini.

"Aku baca buku buat mengusir rasa bosan di kereta, bukan buat cari teman ngobrol," balasku mencoba bertahan.

"Kalau begitu, jadikan aku 'buku baru'-mu mulai hari ini! Dijamin tidak bakal bikin bosan!" Ia mendekat setengah langkah, lalu tiba-tiba mengulurkan jari kelingking kanannya ke depan dadaku.

"Apa-apaan ini?"

"Janji! Mulai hari ini, setiap hari di kereta, kita wajib saling lempar satu pertanyaan. Harus dijawab jujur, tidak boleh bohong!"

"Hei, tunggu dulu, aku belum bilang setuju—"

Sebelum aku sempat menarik tanganku mundur, jari kelingkingnya yang mungil sudah menaut kelingkingku dengan cepat. Sentuhan kulitnya dingin, tapi cengkeramannya terasa sangat mantap tanpa kompromi.

"Kontrak sah! Tidak ada pembatalan!" serunya girang. "Pertanyaan pertamaku untuk hari ini: Siapa namamu, Kak?"

Aku menatap jari kelingking kami yang masih bertautan, lalu menghela napas panjang menatap langit-langit stasiun. Hilang sudah bayangan perjalanan kereta pagi yang damai, sunyi, dan tenang yang selama ini kujaga setengah mati.

"Iguchi Keita," jawabku pasrah pada takdir. "Namaku Iguchi Keita."

Gadis itu melepas tautan jarinya, lalu membungkuk sedikit dengan senyum puas yang sangat menggemaskan sekaligus menyebalkan.

"Salam kenal, Kakak Keita! Aku Yoneyama Maharu dari kelas 2-B. Sampai ketemu di dalam kereta besok pagi!"

Tanpa menunggu balasan dariku, ia berbalik dan melangkah riang menuju gerbang tiket, meninggalkan diriku yang masih berdiri mematung di samping vending machine sambil meratapi nasib.

Related Posts

Posting Komentar