![]() |
| Poster Bullet Train Explosion | Diubah Gemini Google. |
Kemarin, saya baru aja mengkhatamkan film Netflix Jepang bergenre thriller yang bertajuk Bullet Train Explosion.
Premis film rilisan 2025 ini cukup mudah dipahami: ada bom di kereta cepat Shinkansen Hayabusa 60, yang akan meledak jika kecepatan turun dibawah 100 km per jam. Tapi... alih-alih disuguhi hero dengan skill membunuh mumpuni, kita malah disuguhi beragam hal tentang industri perkereta-apian Jepang, yang sialnya, bagusss banget.
Bullet Train Exploision Bukan Film Superhero
Siapa tokoh utama film ini? Apakah Mas Kazuya Takaichi – sang manajer perjalanan kereta yang sejak awal tragedi selalu sibuk menenangkan penumpang? Atau Mbak Masinis Chika Matsumoto, yang tangannya nggak pernah lepas dari tuas kecepatan? Atau malah Mas Yuichi Kasagi yang mengomandoi OCC (Operational Control Center) di JR East?
Nah, ini yang bikin saya bingung menebaknya. Jika tokoh utama adalah tokoh yang membuat perubahan (pergerakan) dalam cerita. Maka, ketiga tokoh yang sudah saya sebutkan turut mengubah dan menggerakkan cerita.
Ketiganya dibingkai dalam satu fokus utama: SOP (Standar Operasional Prosedur). Konsep inilah, yang entah kenapa, selalu terngiang-ngiang di benak saya selama nonton. Demi menggambarkan tindakan masyarakat Jepang yang selalu taat SOP, ketiganya selalu digambarkan taktis, cepat, dan presisi. Disaat yang sama, mereka tetap patuh terhadap aturan dan hirarki kepemimpinan.
Misalnya, ada adegan, saat Yuichi Kasagi harus menerima kenyataan aksi memperpanjang rel tidak diizinkan pusat. Meskipun hatinya dongkol setengah mampus, dia tetap memerintah tim yang melakukannya untuk berhenti. Kalau ini film Hollywood, si tokoh pasti bakal maki-maki, banting HP , terus bilang, "Persetan dengan aturan, gua tetap bakal eksekusi!" Kemudian, dia mencari solusi alternatif yang lain.
Menurut saya, ini luar biasa banget. Tradisi sontaku dan rasa sungkan terhadap atasan tetap ditegakkan walaupun nyawa manusia berada diujung tanduk. Yah, tentu aja, hal ini bisa diperdebatkanlah ya.
Promosi Shinkansen Berkedok Teror Bom
Seperti yang sudah saya bilang diawal, ada beragam hal tentang industri perkereta-apian Jepang yang ditunjukkan film ini. Saya kok "menangkap" kesan film ini tuh strategi marketing terselubung dari Japan Railways untuk mempromosikan Shinkansen.
Disini, mereka nggak nakut-nakutin orang biar gak naik kereta. Sebaliknya, mereka justru film ini justru pamer kecanggihan tentang Shinkansen.Penonton kayak disuruh lihat: "Nih liat, kereta kita tetep stabil walau kereta dibajak! Sistem sinyal otomatis kita canggih kan? OCC kita tetep bisa mantau walau situasi lagi chaos!"
Bahkan dalam kondisi kritis, kita akan melihat masinisnya tetap fokus dengan tugasnya, para regu penyelamat melakukan tugasnya sesuai SOP, para kru OCC juga menjalankan tugasnya tetap dengan baik dalam hitungan detik. Benar-benar sebuah etalase keunggulan teknologi yang dibungkus dengan kepanikan seribu orang.
Nenek Moyangnya Film Speed
Buat yang belum tahu, menariknya film Bullet Train Explosion (2025) ini ternyata bukan ide yang bener-bener murni segar. Film ini adalah remake dari film klasik Jepang tahun 1975 judulnya Shinkansen Daibakuhan (The Bullet Train).
Kemudian, Hollywood menyontek – eh terinspirasi ding – ide soal bom bakal meledak kalau kecepatan kereta melambat dibawah 80 km per jam ini. Jadilah film fenomenal Speed (1994) – dibintangi Keanu Reeves dan Sandra Bulog, eh Bullock. Bedanya, Hollywood mindahin latar tempatnya ke bus kota LA karena lebih privat dan gampang ditabrak-tabrakin. Sedangkan, Bullet Train Explosion versi 2025 mengembalikan takdir cerita ke rumah aslinya: lintasan Shinkansen Seri E5.
Bahkan di dalam filmnya sendiri, polisinya sempet nyeletuk kalau insiden ini kayak aksi peniruan kasus Hikari 109 di tahun 1975. Sebuah meta-joke yang lumayan bikin senyum tipis.
***
Pada akhirnya, Bullet Train Explosion memberikan kita pelajaran penting. Bahwa dalam menghadapi krisis sekelas bom di dalam kereta api super cepat, yang kita butuhkan bukanlah Rambo yang berotot dan jago membunuh. Tapi... para kuli korporat yang taat prosedur, paham jobdesk masing-masing, dan tetep patuh sama atasan walau dalam hati udah pengen ngirim surat resign.
Cocok banget ditonton buat kamu yang pengen ngeliat gimana rasanya kerja overtime di bawah ancaman ledakan. Saya kasih nilai: 8/10 buat ketegangan dan 10/10 buat kepatuhan birokrasinya.

Posting Komentar
Posting Komentar