Dongeng Anak: Sup Batu

Posting Komentar
Ilustrasi AI seorang musafir sedang memasak sup batu dikelilingi warga desa | Gemini Google.

Seorang musafir tiba di sebuah desa dengan perut kosong. Karena bekal dan uangnya sudah habis, dia berniat meminta sedikit makanan dari warga desa. Sayangnya, tak satupun warga mau memberinya makan. Paceklik sedang melanda wilayah mereka pasca-musim kemarau menggagalkan panen mereka. Alih-alih memberi orang lain, mereka lebih memilih menyimpan makanan untuk kebutuhan sendiri.

Sambil menahan lapar, musafir itu berjalan tertatih-tatih ke alun-alun desa. Setibanya di alun-alun desa, dia melihat sebuah kuali besi besar bekas acara desa teronggok di bawah pohon – dekat sumur tua tempat warga biasa mengambil air.

Sebuah ide melintas di pikirannya.

Musafir itu menimba air dari sumur, lalu mengisinya ke dalam kuali. Dia mengumpulkan ranting-ranting kering. Kemudian, dia membuat tungku dari batu-batu, menyalakan api berbahan bakar ranting-ranting kering, lalu meletakkan kuali di atas tungku. Setelah itu, dia mengambil sebuah batu kali yang bersih dari kantongnya, dan mencemplungkannya ke dalam air.

Seorang warga desa bernama Sukarsa—yang akrab dipanggil Karsa—memperhatikan aksi itu dari jauh. Karena penasaran, dia akhirnya mendekat.

"Hey, Orang Asing! Apa yang sedang kamu lakukan dengan batu itu?" tanya Karsa.

"Aku sedang membuat sup batu—sup batu yang sangat lezat!" sahut musafir ramah.

Karsa mengernyitkan dahi. "Sejak kapan batu bisa dijadikan sup?"

"Sejak hari ini," kata musafir. Dia mengambil sendok kayu dari tasnya, mencicipi air panas di kuali, lalu bergumam, "Mmm... rasanya mulai gurih. Tapi, akan jauh lebih lezat kalau ada satu atau dua buah kentang."

Musafir melirik Karsa. "Apakah Anda punya kentang?"

Karsa ragu sejenak. Namun karena penasaran ingin mencicipi sup batu itu, dia menjawab, "Aku punya beberapa di rumah."

"Bawalah kesini. Nanti Anda boleh menikmati sup batu ini bersamaku," janji sang musafir.

Karsa segera pulang mengambil kentang. Di jalan, dia bertemu tetangganya, Sumi, dan menceritakan tentang sup batu tersebut. Sumi yang penasaran mengikuti Karsa ke alun-alun.

Di sana, musafir meminta Karsa memotong kentang dan memasukkannya ke kuali. Setelah mencicipinya lagi, musafir berkata, "Wah, makin enak! Tapi sup ini akan sempurna kalau ada wortelnya."

Sumi yang mendengar hal itu langsung pulang mengambil simpanan wortel di rumahnya.

Kabar tentang "sup batu" dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut. Satu per satu warga berdatangan membawa bahan masakan yang mereka simpan. Ada yang membawa garam dan merica. Ada yang membawa kol, buncis, dan daun bawang. Ada yang membawa bawang merah dan minyak. Ada yang membawa sedikit irisan daging.

Bahkan beberapa warga yang tidak membawa apa-apa juga datang ke alun-alun untuk membantu. Ada yang memotong sayur, menambah kayu bakar, dan mengaduk kuali bersama.

Tak lama kemudian aroma gurih dan wangi dari sup batu memenuhi udara. Tanda sup sudah mulai matang.

Musafir mencicipi kuah sup itu sekali lagi, lalu tersenyum lebar. "Sup batu sudah matang dan siap dihidangkan!"

Mendengar hal itu, para penduduk desa langsung pulang ke rumah masing-masing. Tak berapa lama, mereka kembali ke alun-alun sambil membawa wadah apa saja yang mereka miliki—ada yang membawa mangkuk keramik, piring cekung, hingga rantang tua.

Dengan tertib, warga mengantre di depan kuali besar. Musafir membagikan sup hangat beraroma gurih itu ke dalam wadah mereka satu per satu.

Mereka lalu duduk bersama di bawah rindangnya pohon alun-alun, menikmati sup paling lezat yang pernah mereka rasakan. Hari itu, semua orang makan dengan kenyang dan bersuka cita. Ketakutan akan paceklik mendadak sirna oleh kehangatan kebersamaan.

Sebelum melanjutkan perjalanannya, musafir mengambil kembali batunya dari dasar kuali, mencucinya, lalu memasukkannya ke dalam kantong.

Karsa tersenyum dan berkata, "Terima kasih, Musafir. Sup batu buatanmu sungguh ajaib. Kita semua bersatu hari ini."

Musafir tersenyum ramah. "Sup ini jadi lezat bukan karena batunya, melainkan karena bahan-bahan yang kita kumpulkan bersama."

Dengan perut yang kenyang dan hati yang gembira, musafir berterima kasih kepada seluruh warga. Dia pun kembali melangkah melanjutkan perjalanannya.

Related Posts

Posting Komentar