![]() |
| Ilustrasi AI Google Gemini | Aziz dan Dion sedang memesan makanan pada Salma. |
“Salma belum menyetujui permintaan pertemananmu di Facebook?”
Tiba-tiba sebuah suara dengan nada bertanya terdengar di telinga kiriku. Aku yang sedang melamun sontak terkejut. Ternyata dia adalah Dion, “rekan kerja” sekaligus temen nongkrong saat menunggu orderan.
“Belum Bang,” sahutku dengan suara pelan ketika sudah berhasil mengatasi keterkejutanku, “Udah ada yang punya kali Bang.”
Tanpa peduli ucapanku, Dion justru menanyakan hal lain, “Emang udah berapa lama lo ngajuin permintaan pertemanan ke dia?”
“Kalau hari ini dihitung, berarti udah 14 hari lewat 7 jam lebih 20 menit tepat 20 detik. Tepatnya sehabis aku di-Putus Mitra dari ojek online.”
“Kenapa dia nggak meng-approve ya?” tanyanya lebih kepada diri sendiri, lalu terdiam beberapa saat, dan melanjutkan, “Boleh kutahu Facebooknya Salma?”
Aku terdiam.
“Tenang Ziz, nggak akan kugebet,” katanya seolah tahu apa yang ada di dalam pikiranku, “Aku cuman penasaran kenapa dia nggak meng-approve permintaan pertemananmu.”
Sebenarnya aku tak ingin memberitahu Facebook Salma pada Dion. Setahuku Dion playboy, tukang gonta-ganti cewek. Walaupun ada jaminan darinya tidak akan menggebet Salma. Tapi rasa penasaran akan sikap Salma yang belum mau meng-approve permintaan pertemananku jauh lebih besar dibandingkan ketakutanku Salma digebet Dion. Toh aku tak bisa mendekati Salma jika permintaan pertemananku tak di-approve.
“Ini Bang,” kataku sambil menunjukkan akun Facebook milik Salma.
“Boleh kuadd?”
Aku mengangguk. Dion pun meng-add akun Facebook Salma.
***
Sehari kemudian, Dion memberitahuku kalau Salma meng-approve permintaan pertemanannya.
“Kok bisa segampang itu ya?” tanyaku tak percaya.
“Kamu kurang ganteng kayaknya, hehehe,” sahutnya asal.
‘Sialan!’ aku merutuk dalam hati.
“Nggak cuman persetujuan pertemanan darinya, aku bahkan sudah chit-chat dikit dengannya, mengorek latar belakangnya.”
‘Sialan lagi!’ aku memaki, tapi bersemangat mendengar kelanjutan dari cerita Dion tentang latar belakang Salma.
“Terus apa saja yang Abang tahu tentang Salma?”
“Haus nih Ziz,” tukas Dion, “Cerita kalau nggak ada airnya suka tersendat-sendat. Seret.”
Aku beranjak dari tempat dudukku untuk pergi ke warung kopi, memesan segelas es teh manis dan segelas kopi.
“Jangan lupa gorengannya ya,” pesan Dion sambil prengas-prenges.
Aku hanya mengiyakan sambil berlalu.
***
Cemilan dan minuman sudah tersedia. Giliranku menuntut Dion untuk menceritakan soal Salma.
“Saat ini, status Salma adalah jomblowati. Belum lama sih dia menjomblo. Kurang lebih seminggu lalu. Penyebab putusnya, aku nggak tahu. Jadi kamu, dan aku, punya peluang besar untuk menggebetnya,” demikian Dion mengawali ceritanya tentang Salma.
“Katanya nggak mau menggebet Salma, gimana sih?” tanyaku sedikit ketus, “Kalau begini caranya aku menyesal memberitahu Facebook Salma.”
Mendengar keluhanku itu, Dion hanya nyengir lebar. “Just kidding, Bro! Aku hanya menggodamu.”
“Ngaku aja dah Bang kalau mau ikut dalam permainan. Aku rapopo.”
“Mau dilanjutkan atau tidak?”
Aku terdiam. Tentu saja aku mau dilanjutkan, tapi bercandaan itu menyisakan kedongkolan di hati.
“Mau nggak?”
Akhirnya aku menggangguk.
“Oke kalau begitu,” katanya sambil nyeruput kopi, yang setelahnya dilanjutkan memakan gorengan, “Salma anak kedua. Dia tinggal sendirian disini. Ngontrak rumah tak jauh dari tempatnya bekerja di warung makan. Kedua orang tuanya tinggal di Magelang. Kakak pertamanya sudah menikah dan ikut suaminya ke Batam.”
Aku takjub dengan kemampuan Dion mengorek latar belakang Salma secara detail dalam satu hari. Cerita tersebut membuatku makin mengawang berimajinasi Salma berada di sisiku, menjadi milikku.
***
Pertemuanku dengan Salma terjadi waktu aku mendapat order mengantar makanan dari warung tempat Salma bekerja. Sejak itu, aku selalu berusaha mendapatkan order makanan dari warung tempat Salma bekerja setiap harinya. Memiliki bentuk fisik yang tambun, membuatku tak percaya diri memulai pembicaraan dengan wanita. Apalagi wanita itu sudah kusukai sejak awal. Jadi aku hanya menjadi pemuja rahasianya. Mencuri-curi pandang tiap kali aku mendapatkan order.
Hal ini kulakukan sampai datang kabar buruk dari server ke akun ojek online-ku. Aku diputus mitra karena diduga melakukan order fiktif. Dan aku tak bisa melihat Salma lagi dari dekat, karena aku memutuskan bekerja di bidang lain. Tak ingin lagi bekerja sebagai ojek online lantaran tarifnya yang selalu diutak-atik.
***
“Kalau begitu, kita berangkat ke warung tempat Salma bekerja?” kata Dion merusak lamunanku.
“Mau ngapain kesana Bang?” tanyaku.
“Makan ayam gorenglah,” sahutnya, “Tenang, kutraktir.”
***
Jujur saja, datang ke warung tempat Salma bekerja membuatku gugup. Pun begitu aku tak ingin kegugupanku terlihat siapapun, termasuk oleh Salma.
“Kak,” panggil Dion. Seorang pramusaji datang ke meja kami duduk.
‘OMG, pramusaji itu Salma. Dia terlihat cantik banget hari ini,’ gumamku.
“Kamu pesan apa Ziz?” tanya Dion.
Aku yang sedang dalam lamunan tak mendengar pertanyaan itu. “Ziz!” panggil Dion sambil menyenggol kakiku.
“Salma...”
Salma tersenyum mendengarnya. Aku salah tingkah. Tapi dengan cepat menenangkan diri. “Maaf kak, maksud saya...”
“Jangan panggil saya kakak, panggil saya Salma, Salmadari kalau mau manggil secara lengkap. Abang baru kelihatan, nggak ambil order makanan lagi disini?”
“Kode tuh Ziz,” celetuk Dion.
Aku nyengir, bingung harus menjawab apa.
“Cepet, pesen apa, kasihan kak Salma berdiri mematung menunggu kamu memilih menu.”
“Samain aja kayak Dion.”
“Yaudah, ayam bakar dua plus es teh manis dua biar tambah romantis.”
Salma mencatat, lalu berlalu pergi ke dapur untuk menyerahkan pesanan kami.
***
Dalam sepuluh menit, kami berhasil menghabiskan makan siang kami. Dion, yang tahu kalau Salma merangkap sebagai kasir juga, menyuruhku membayar tagihan.
“Jangan lupa ajak dia bicara, seolah-olah ini menjadi pertemuan terakhirmu dengannya. Jangan cuman bayar lalu kabur. Percuma kamu kuajak makan kalau nggak bisa melakukannya.”
Aku mengambil duit yang diberikan Dion, lalu menuju kasir, sambil memikirkan apa yang akan kukatakan.
“Semua-nya jadi empat puluh ribu,” kata Salma. Aku menyerahkan selembar uang pecahan 50 ribu.
Sambil menunggu kembalian, aku mengumpulkan nyali untuk bertanya, “Jam kerjamu selesai jam berapa?”
Setelah menatap jam dinding, Salma menjawab, “Saya selesai jam 9 malam.”
“Mau ngopi di kedai Della?” tanyaku memberi tawaran.
“Hmm... saya nggak jadwal kemana-mana sih,” jawab Salma dengan senyum mengembang.
Jawaban itu membuatku riang. “Oke aku tunggu kamu diluar jam 9-an nanti malam,” tukasku dengan penuh kepercayadirian yang memuncak. Dengan langkah ringan aku kembali ke Dion sembari memberitahu rencanaku dengan Salma nanti malam.
“Baguslah kalau begitu,” kata Dion.
Kami beranjak dari meja, dan pergi ke tempat parkir motor. Setelah Dion menyalakan motor, aku berkomentar, “Tapi hebat juga lo Bang, bisa tahu latar belakang Salma dalam satu hari.”
“Aku nggak tahu Ziz. Aku ngarang semua kok. Salma nggak pernah menerima permintaan pertemananku. Facebook Salma yang menerima itu buatanku sendiri. Semua cerita latar belakang Salma juga cuman rekaanku.”
“Kok gitu sih?” tanyaku sebal, merasa dibohongi. Aku marah.
“Denger ya Ziz, lo boleh suka sama semua cewek cantik di seluruh dunia ini. Tapi kalau lo nggak memulainya, mereka semua nggak akan tahu kalau lo menyukai mereka. Gue cuman mau lo bergerak. Nggak vakum menunggu keajaiban. Buktinya, setelah lo gerak, Salma merespons kan? Sekarang semua bergantung pada lo dan Salma, serta jodoh.”
Aku mengangguk-angguk, membenarkan apa yang dikatakan Dion. Jika tidak sekarang kapan lagi? Kami kembali ke kontrakan. Kepalaku memikirkan rencana apa yang harus kulakukan nanti malam bersama Salma.[]

Posting Komentar
Posting Komentar