![]() |
| Poster Ilustrasi Review Film Heart of the Beast | AI Gemini Google. |
Tiga hari terakhir, gara-gara sok ide nulis review film Heart of the Beast (HOTB), saya sampai bela-belain maraton tiga film bergenre survival sekaligus. Awalnya sih cuman pengin nonton aksi Brad Pitt di HOTB. Tapi pas filmnya kelar, bukannya terpuaskan, saya malah kepikiran.
Biar nggak dikira hater karbitan – karena ekspektasi saya yang kelewat tinggi mungkin – akhirnya saya cari film pembanding. Nontonlah, The Grey (2011) dan Arctic (2018). Sungguh sebuah keputusan sial dangkalan, sebab ujung-ujungnya tindakan ini malah nambah-nambahin kerjaan sendiri. Tapi ya sudahlah... terlanjur nonton semuanya!
Konflik Fisik vs Psikologis yang Nggak Nge-blend
Banyak reviewer bilang kalau HOTB ini cukup keren, karena menghadirkan dua konflik sekaligus yang "menyerang" sang tokoh utama. Dua konflik itu adalah konflik fisik melawan alam liar dan konflik psikologis terkait masa lalu si tokoh utama, James Belmont (JB).
Disinilah letak masalah utamanya. Menurut saya, dua konflik ini kayak minyak sama air: kumpul seember tapi nggak pernah nge-blend. Berdiri sendiri-sendiri.
Konflik psikologis yang "menyerang" JB ini berasa cuma ditempel di latar belakang biar filmnya kelihatan deep. Padahal, sebagai penonton yang lugu, saya berharap rintangan fisik yang bikin berdarah-darah itu bisa jadi alat penyelesaian buat beban batinnya. Pas bertahan hidupnya selesai, masalah batinnya ikut tuntas. Eh, ternyata... eh, ternyata...
The Grey dan Arctic
Penasaran kenapa rasa ganjel ini muncul, saya coba bandingkan sama dua film survival lainnya.
Pertama, The Grey (2011). Filmnya Liam Neeson – memerankan tokoh John Ottway – ini sejatinya punya penyakit yang mirip sama HOTB: konflik psikologis soal kenangan istri si Ottway itu nggak begitu jelas tujuannya apa. Satu-satunya hal yang saya ingat soal ini adalah ketika dalam sebuah flashback sang istri meminta Ottway untuk tidak takut. "Jangan takut, jangan takut," begitu kata sang istri sembari terkapar di rumah sakit.
Tapi, The Grey punya jurus penyelamat: konflik fisiknya sangat intens!
Sejak pesawat jatuh, tujuh orang yang selamat langsung dikuntit kawanan serigala abu-abu. Rintangan datang bertubi-tubi silih berganti. Bikin penonton seperti ikut merasakan jadi salah satu dari tujuh orang yang selamat itu. Gimana rasanya dikejar kawanan makhluk buas. Pasti deg-degan parah dong ya! Karena tensi bertahan hidupnya tinggi banget, kita sampai lupa (atau bahkan nggak peduli lagi) sama konflik batin Ottway yang remang-remang itu.
Kedua, Arctic (2018). Film yang dibintangi Mads Mikkelsen ini beda lagi. Film ini pure konflik fisik tanpa perlu jualan trauma masa lalu. Nggak ada serigala yang mengintai tiap detik, bahkan ketemu beruang kutub pun cuma encounter sekilas yang lewat gitu aja.
Rintangan terbesarnya cuma satu: nyeret korban selamat—seorang cewek yang sepanjang film cuma merem dan tiduran doang. Asli, enak betul itu aktrisnya, dibayar mahal cuma buat akting tidur! Kalau cuma begitu mah saya juga jago, wkwkwk. Walaupun Arctic rasanya agak datar dan minim dialog, tapi dia jujur sama konsepnya dari awal sampai akhir. Cuman agak ngebosenin aja
So, Menurut Saya, HOTB Itu Nggak Jelek, Cuma...
Setelah punya dua pembanding ini, saya baru bisa menilai HOTB secara adil. HOTB ini sebenarnya nggak jelek-jelek amat, masih sangat layak ditonton. Film ini punya nilai dan situasi unik yang nggak ada di The Grey maupun Arctic.
Hanya saja, HOTB berada di posisi yang nanggung: Mau jualan aksi dan tensi bertahan hidup yang memicu adrenalin? Masih kalah rapat dan kalah cepat dibanding The Grey. Mau jualan kepasrahan fisik dan keheningan alam liar tanpa drama tempelan? Kalah konsisten dibanding Arctic.
Jadinya, HOTB terjebak di tengah-tengah: tensi fisiknya nggak cukup kencang buat nutupin kelemahan drama psikologisnya, tapi dramanya juga nggak cukup matang buat bikin kita terharu. Walaupun begitu, kita tetap perlu mengapresiasi duet Belmont dengan Odin yang cukup lumayan bikin haru lewat ekspresinya. Oiya, FYI, karakter Odin itu ternyata "dihidupkan" oleh empat ekor doggy Belgian Mallinois.
Tapi ya balik lagi, semua tergantung selera masing-masing seh... hehehe... Namanya juga film. Sekian!

Posting Komentar
Posting Komentar